Sebuah tradisi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah yang diantaranya di wilayah Desa Tersangede Kecamatan Salam Kabupaten Magelang, berupa serangkaian kegiatan membersihkan makam leluhur (besreh makam), menabur bunga dan berdoa untuk menghormati dan mendoakan leluhur secara bersama sama yang dilanjutkan kembul bujono (genduren). Asal usul tradisi nyadran ini yang berasal dari bahasa Sansekerta sraddha (keyakinan), tradisi ini berkaitan dengan kepercayaan animisme yang kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Islam setelah masuknya ajaran Islam ke Pulau Jawa melalui Wali Songo. Transformasi ini menjadikan nyadran sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah yang diberikan. Tradisi ini dilakukan setiap tahun pada bulan Ruwah (Sya'ban) sebelum bulan Ramadhan sebagai bentuk syukur dan persiapan batin.
Pelestarian Budaya dan Nilai-Nilai Sosial Seiring berjalannya waktu, nyadran tidak hanya menjadi ajang ritual keagamaan, tetapi juga berperan dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan sosial di masyarakat. Tradisi ini menjadi sarana menjaga keharmonisan antarwarga serta mempererat tali persaudaraan melalui kegiatan gotong royong dan kebersamaan.
Sebagai warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun, nyadran menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat bertahan di tengah modernisasi. Keberlanjutan tradisi ini bergantung pada peran generasi muda dalam memahami dan meneruskan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Inti Rangkaian Tradisi Nyadran:
Makna dan Nilai Nyadran: